gerTAK Blog!

August 31, 2008

30 Tamu Presiden Kelaparan Dua Hari

Filed under: Uncategorized — gertak @ 12:30 PM

Makan Sekali Sehari Ditampung Ketua RT

Kramatjati, Warta Kota
Wartakota Hari Ini
SEBANYAK 30 penari asal NTT yang tampil di Istana Presiden pada
perayaan HUT ke-63 RI telantar dan tak bisa pulang ke daerahnya. Mereka
sempat kelaparan karena ditinggal pergi oleh ketua panitia dan pimpinan
kelompok.

Beruntung, ada yang menolong para penari yang semuanya merupakan siswa
SMA di Kabupaten Lembata, NTT, tersebut. Hingga Kamis (21/8), ke-30
penari itu ditampung di rumah Dominik Walleng dan Suparman, warga dan
Ketua RT 10/04 Kelurahan Kramatjati, Jakarta Timur.

”Rabu
pagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lembata, Martin
Didi Lejak, sebagai manajer keuangan, dan Madjid Lamahoda, pimpinan
kelompok, tanpa sepengetahuan anak-anak pergi dari tempat penginapan.
Mereka tidak bertanggung jawab, bahkan mereka membawa sisa uang
penginapan,” ucap Dominik Walleng di rumahnya, Kamis sore.

Para penari itu tiba di Jakarta pada 16 Agustus lalu dan menginap di
Graha Wisata Remaja TMII, Jakarta Timur. Mereka merupakan utusan
Provinsi NTT untuk mengisi acara pada perayaan 17 Agustus di istana.
Keberangkatan mereka ke Jakarta dibiayai pemerintah daerah asal.

”Menurut anak-anak tersebut, sesuai rencana mereka menginap di Jakarta
selama 10 hari dari tanggal 16 Agustus. Nyatanya mereka cuma menginap
sampai Rabu lalu atau cuma selama empat hari. Nah, sisa uang penginapan
ke mana?” ucap Dominik yang berasal dari NTT.


”Dari NTT setiap anak mendapat uang saku Rp 1 juta untuk 10 hari. Kami
nggak tahu apakah dari panitia di Jakarta kami juga dapat uang saku.
Yang kami dengar, kami dapat uang saku, tapi sampai sekarang kami tidak
terima. Uang Rp 1 juta dari NTT itu sudah habis. Seharusnya makan dan
tempat penginapan kami di Jakarta ditangggung, tapi pengurusnya kabur.
Kami jadi telantar,” ucap seorang penari.

Menurut Dominik, ke-30 penari yang tampil menawan di hadapan Presiden
dan pejabat negara itu sempat terlunta-lunta. Mereka juga kelaparan
karena uang sakunya habis. Selama dua hari terakhir, para remaja itu
makan sekali dalam sehari, yakni hanya pada waktu pagi. ”Kami dibantu
oleh ketua RT, tapi kemampuan Pak RT kan terbatas,” tuturnya.

Dominik mengaku sangat prihatin dengan kejadian yang dialami para
penari tersebut. ”Kok tega-teganya ya… seharusnya anak-anak ini
dibiayai, bukan ditelantarkan seperti ini,” ucapnya. Sejauh ini, kata
Dominik, dirinya sudah menghubungi Pemprov NTT dan DPRD NTT untuk
membantu kepulangan ke-30 penari tersebut.

Sementara itu
jurubicara kepresidenan Andi Mallarangeng yang akan dimintai
konfirmasinya tadi malam, tidak bisa dihubungi. Handphone-nya aktif
tetapi tidak diangkat.

Ketua RT 10/04 Kelurahan Kramatjati,
Suparman, membenarkan kejadian yang dialami para penari asal NTT. ”Kami
menolong karena kasihan melihat mereka. Kebetulan ada ruangan di rumah
saya yang cukup besar, ya akhirnya dipakai buat anak-anak itu,”
katanya.

Para penari asal NTT ini tergabung dalam Sanggar
Cipta. Rombongan tersebut terdiri atas 25 penari dan lima pendamping.
Saat perayaan 17 Agustus di istana, mereka membawakan tarian Baleo,
tarian yang mengisahkan tentang warga dengan perahu paledang, perahu
khas NTT, yang berusaha menangkap ikan paus. Tarian Baleo, kata
Dominik, merupakan tarian tradisional NTT yang sudah ada sejak tahun
1600. Tarian ini sudah membudaya dan turun-temurun dilestarikan
masyarakat NTT. (ded)

Advertisements

2 Hari Hormat Bendera Sia-sia

Filed under: Uncategorized — gertak @ 12:26 PM

Hadiah Utama Motor, Kecewa, Panitia ”Ngeles”

Kota, Warta Kota
Warta Kota Hari Ini
Lomba menghormat ke bendera Merah-Putih selama dua hari menuai badai.
Sejumlah peserta mengaku tertipu karena hadiah yang dijanjikan tidak
ditepati oleh panitia. Salah seorang peserta lomba tersebut mengaku
kecewa. Dia menyesalkan hadiah yang tidak setimpal dengan pengorbanan
yang dilakukan peserta. Dia juga

mempertanyakan
pemberian hadiah yang tidak tepat waktu. Lomba menghormat ke bendera
itu dilaksanakan mulai Kamis (28/8) sore dan berakhir Jumat pagi.

”Namanya lomba, seharusnya hadiah sudah disediakan dari awal. Ini
tidak. Begitu kami minta hadiahnya, katanya baru diberikan Senin lusa
dan itu pun belum pasti. Saya tidak masuk kategori juara dan saya cuma
berhak menerima uang Rp 70.000, tapi kata panitia hadiahnya baru bisa
saya ambil Senin nanti,” ucap seorang peserta berinisial Ar (30)
melalui telepon, Jumat (29/8) malam.

Ar yang tinggal di
kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mengatakan, usai salat Jumat, dia
bersama sejumlah peserta yang gugur dalam pertandingan menagih hak
mereka ke kantor Yayasan Untukmu Indonesiaku, penyelenggara lomba
menghormat ke bendera, di Jalan Pondok Jaya IV No 23,

Mampang
Prapatan VII, Jakarta Selatan. Di kantor tersebut, Ar dan sejumlah
peserta tidak menerima jawaban pasti soal hadiah yang akan mereka
terima. ”Panitia menjanjikan kepada kami bahwa hadiah akan diberikan
Senin nanti,” ucap ayah tiga anak ini.


Diceritakan Ar, tanggal 25 Agustus lalu dia membaca tulisan di spanduk
yang dipasang di depan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Spanduk itu
bertuliskan lomba menghormat ke bendera Merah-Putih selama 17 jam 8
menit 45 detik. Lomba diadakan Kamis, 28 Agustus 2008.


”Tanggal 26, saya bersama tetangga saya mendaftarkan diri,” ucap Ar.
Dia tergiur ikut lomba menghormat bendera karena hadiahnya lumayan
besar senilai Rp 20 juta. Ada juga hadiah berupa sepeda motor dan
televisi.

Di hari-H, lomba menghormat ke bendera Merah-Putih digelar mulai pukul
16.00. Sebanyak 306 peserta dengan memakai seragam dari panitia
berlomba untuk menjadi yang paling lama dalam posisi menghormat ke
bendera Merah-Putih yang berkibar di puncak tiang bendera.

Para peserta, kata Ar, antara lain harus berdiri tegak, tangan harus di
dahi, dan mata harus terus menghadap ke bendera. Dari 306 peserta, yang
paling muda berusia 15 tahun dan yang paling tua 60 tahun.

Kegiatan ini diadakan di ruang terbuka di sebuah tempat di Jakarta
Pusat. Tak pelak, hujan yang mengguyur Kamis sore itu membasahi tubuh
para peserta. ”Ya itu sudah menjadi risiko, tapi kami tetap bertahan
menghormati bendera Merah-Putih. Ini sebuah pengabdian kami,” ucap Ar.

Lewat tengah malam, satu per satu peserta berguguran. Bahkan sejumlah
peserta pingsan. ”Sekitar jam 3 pagi saya gagal meneruskan lomba.
Setelah istirahat, para peserta yang gugur pulang. Jumat siang kami
kembali ke kantor panitia untuk mengambil hadiah,” ucap Ar.

Menurut Ar, sesuai janji panitia, peserta yang gugur pukul 03.00
menerima penghargaan berupa uang Rp 70.000. Sedangkan yang gugur pukul
04.00 mendapatkan uang Rp 100.000, dan peserta yang gugur pada jam
06.00 sampai 08.00 menerima uang Rp 125.000.

”Bagi saya,
hadiah uang itu tidak sesuai dengan apa yang telah kami lakukan.
Bayangkan saja, Mas, kami sudah mengikuti lomba selama 12 jam. Yang
membuat kami lebih kecewa, hadiahnya tidak bisa kami ambil hari itu
juga tapi baru Senin depan. Kegiatan lomba ini sebenarnya bagus sekali
tapi sayangnya tidak dikemas secara profesional,” ucap Ar.

Tidak memaksa

2 Hari Hormat Bendera Sia-sia
Ketika diminta tanggapannya, Hj Erita S Rasuna, Sekretaris Yayasan
Untukmu Indonesiaku, mengatakan pihaknya memandang wajar keluhan
peserta. Diakui Erita, Jumat siang terjadi kericuhan antara panitia
dengan sejumlah peserta. ”Kericuhan itu terjadi bukan karena kami tidak
mau memberi hadiah, sebab rencananya hadiah akan diberikan jam 4 sore,”
paparnya.

Sesuai rencana, kata Erita, pemberian hadiah akan
dilakukan oleh salah satu deputi Kementerian Negara Pemuda dan
Olahraga. ”Maksudnya setelah salat Jumat bukan berarti usai salat
langsung diberikan hadiahnya, pemberiannya jam 4 sore,” ucap Erita.

Tentang hadiah, juara 1, 2, dan 3 masing-masing berhak menerima satu
sepeda motor. Sedangkan juara harapan 1, 2, dan 3 mendapatkan televisi
dan pemutar DVD. ”Kenapa hadiahnya tidak kami berikan saat itu juga?
Sebab kami kan harus mengurus surat-suratnya. Makanya, sebagai
simbolis, hadiah yang diberikan hanya pemutar DVD. Kalau mau dipaksakan
hari itu juga, ya peserta harus menanggung sendiri administrasinya,”
papar Erika.

Pihak Yayasan Untukmu Indonesiaku, kata Erita,
bersikap profesional dalam mengadakan acara tersebut dan tidak
sembarangan. ”Sebab kami membawa nama Mennegpora dan Depdagri. Bukan
itu saja, kami juga membawa nama bangsa Indonesia. Jadi kami juga tidak
mau kegiatan kami ini ecek-ecek. Intinya persoalan tadi siang sudah
bisa diselesaikan,” kata Erika.

Yayasan Untukmu Indonesiaku
adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial dan
kemanusiaan. Lomba menghormati bendera Merah-Putih sudah dua kali ini
diadakan. Tujuannya agar masyarakat, khususnya generasi muda, punya
semangat nasionalisme yang tinggi dan pantang menyerah. (ded)

Caleg Mantan Napi Pede Taufik-Guiteres Optimis

Filed under: Uncategorized — gertak @ 9:36 AM

Kota, Warta Kota
Meski pernah berstatus sebagai narapidana (napi), Eurico Guiteres dan M Taufik yakin dan percaya diri mampu menjadi anggota legislatif pada Pemilu 2009. Guiteres dicalonkan oleh PAN, sedangkan Taufik dicalonkan oleh Partai Gerindra.

Selain Eurico dan Taufik, masih ada satu mantan terpidana yang juga mantan Wakil Ketua DPR, Zaenal Ma’arif yang maju jadi caleg. Zaenal malah dicalonkan oleh Partai Demokrat. Padahal sebelumnya ia berseteru dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga kasusnya menjadikan Zaenal divonis hukuman percobaan.

ImageDihubungi terpisah Sabtu (23/8), ketiganya optimis bisa lolos jadi wakil rakyat yang berkantor di Senayan. ”Saya tidak melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman lima tahun. Saya sudah melampirkan semua keterangan dan bukti-bukti untuk pencalegansaya,” kata Zaenal.

Ia juga menjelaskan bahwa kasusnya tidak tergolong berat, yakni perselisihan dengan SBY yang mengarah pada pencemaran nama baik. ”Saya setuju yang ditolak masyarakat itu caleg yang pernah melakukan tindak pidana korupsi atau terjerat narkoba. Hukumannya kan berat,” katanya.
Mengapa setelah bermusuhan dengan SBY kini justru dicalonkan oleh Partai Demokrat yang dibesarkan oleh SBY, Zaenal menjawab, ”Tidak ada masalah dan sudah ada (putusan yang punya) kekuatan hukum tetap. Sudah inkrach.”

Selain Zaenal, M Taufik (mantan Ketua KPU DKI), dan Eurico Guiteres, masih ada mantan napi kasus narkoba Zarima Mirafsur yang jadi caleg.
Zarima yang populer dengan sebutan Ratu Ekstasi dicalonkan oleh Partai Demokrat untuk Kabupaten Bogor. Zarima masuk daerah pemilihan Bogor III yang meliputi Cisarua, Megamendung, Ciawi, Caringin, Cigombong, dan Tamansari.
”Zarima sudah menyerahkan berkas pendaftaran di KPU Bogor Selasa (19/8) siang. Zarima tercatat berdo-misili di Kopo, Cisarua, Bogor,” kata anggota KPU Kabupaten Bogor, Haryanto Surbakti.
UU hanya melarang mantan napi jadi caleg jika tuntutan atau hukumannya di atas lima tahun. Menurut Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform (Cetro), Hadar N Gumay, hal ini diatur oleh UU 10/2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPRD, dan DPD.
”Ya memang, apa yang diharapkan oleh masyarakat tidak sama dengan UU. Masyarakat hanya bisa mewujdukan harapannya dengan tidak memilih caleg bermasalah. Itu bisa efektif,” katanya.
Sementara itu Guiteres, yang menerima putusan bebas murni dari Mahkamah Agung, justru mengaku mendapatkan banyak simpatisan dan dukungan. Sebab, kasusnya yang terkait dengan Timor Timur murni kasus politik.
”Saya yakin masyarakat tahu siapa saya karena proses hukum mengatakan saya bukan pelaku korupsi dan saya bukan pemberontak,” ucap Guiteres yang kini menjabat Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PAN Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Guiteres mengucapkan rasa terima kasih kepada PAN atas pencalonan dirinya sebagai caleg. “Saat dicalonkan, saya langsung bersedia karena masih diberi kesempatan mengerahkan semangat nasionalisme saya buat negara ini.” tuturnya.
Ia berjanji jika dipercaya duduk di kursi Senayan selama lima tahun, ia akan memperjuangkan aspirasi masyarakat NTT.
Sementara itu M Taufik, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI, dicalonkan oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Ia dipenjara karena kasus korupsi di tubuh KPU DKI.
”Biar masyarakat sendiri yang menilai bahwa proses peradilan kemarin mengada-ada. Saya me-yakini bahwa saya tidak melakukan itu. Ada konspirasi. Saya menilai itu sebuah risiko bagi seorang pemimpin,” papar Taufik yang divonis April 2006 dan bebas 23 Agustus 2007.
Taufik jadi caleg untuk daerah pemilihan Jakarta Timur. Ia juga menjabat Ketua Partai Gerindra DKI. ”Yang jelas saya akan berkomitmen untuk selalu berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Secara terpisah, Ketua Umum Relawan Bangsa, Suaib Didu, meminta semua parpol melakukan penyaringan ketat. ”Kami minta partai melakukan penyaringan secara ketat. Terhadap pihak-pihak yang terindikasi terlibat kasus korupsi dan kasus dana Bank Indonesia (BI) agar tahu diri dan tidak mencalonkan diri.” katanya.
Didampingi sejumlah pimpinan ormas yang tergabung dalam Masyarakat Anti Korupsi (Matikor), Mahasiswa Pancasila, dan Relawan Pemuda, Suaib mengingatkan bahwa legislatif merupakan lembaga sangat terhormat. Tapi yang terjadi sekarang, kondisi legislatif atau DPR sangat buruk karena perilaku anggotanya.
”Kami minta KPU segera memublikasikan nama-nama caleg di media massa. Dengan begitu, publik diberi kesempatan untuk menilai para caleg secepatnya,” katanya. (ded/moe)

Televisi di Indonesia dari Masa ke Masa

Filed under: Uncategorized — gertak @ 9:12 AM

26/08/2007 08:17 Televisi
Televisi di Indonesia dari Masa ke Masa

Liputan6.com, Jakarta: Pada 24 Agustus yang baru lalu, tiga stasiun televisi berulang tahun. Yakni, Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang tertua dan dua televisi swasta, Rajawali Citra Televisi (RCTI) dan Surya Citra Televisi (SCTV). Perjalanan dunia pertelevisian di Indonesia, memang lumayan panjang.

Walau terbentur dokumentasi dan inventaris peninggalan yang tak lengkap, paling tidak jejak awal berdirinya televisi di Tanah Air, masih dapat ditelusuri. Drama televisi Losmen, misalnya, merupakan acara andalan TVRI pada pertengahan era 80-an yang selalu ditunggu penayangannya.

Namun, Losmen hanyalah bagian kecil dari perjalanan TVRI. Sebagai stasiun televisi tertua di Indonesia, kiprah TVRI sudah dimulai pada awal era 60-an, berbarengan dengan penyelenggaraan pesta akbar olahraga se-Asia, Asian Games.

Peralatan pada masa tersebut belum secanggih peralatan zaman sekarang. Kamera Nippon Electric, misalnya, adalah salah satu peralatan yang digunakan dunia pertelevisian pada era 60-an. Tiga lensa yang ada pada kamera itu digunakan untuk mengambil gambar jarak dekat, sedang, dan jauh. Adapun gambar yang dihasilkan masih berupa gambar bisu. Sedangkan suaranya direkam dengan alat lain. Nah, gambar dan suara itu kemudian digabung atau diedit dengan menggunakan sebuah alat.

Memasuki tahun 1970-an, dunia pertelevisian beralih menggunakan kamera yang lebih kecil ukurannya. Peralatan itu terus diganti seiring dengan teknologi terbaru. Sayang tak banyak peralatan siaran televisi maupun dokumentasi yang terinventaris dengan baik. Alhasil tak banyak yang dapat diketahui tentang sejarah perkembangan pertelevisian di Tanah Air.

Nah, di era digital seperti sekarang ini, berbagai peralatan pertelevisian sudah jauh lebih kecil ukurannya. Namun memiliki kemampuan yang jauh lebih besar. Demikian juga dengan pesawat penerima televisi. Jika dahulu masih berupa tabung hitam putih, kini sudah jauh berkembang. Sekarang sudah banyak pesawat televisi dengan layar kristal cair (LCD) dan plasma.

Dan saat ini menonton televisi melalui telepon genggam bukanlah suatu hal yang aneh. Sebab, perkembangan teknologi yang kian maju telah memungkinkan hal itu. Para pengguna telepon seluler (ponsel) sekarang tak akan lagi terlewat untuk menyaksikan program favorit mereka. Mau hiburan, berita atau olahraga, itu semua sekarang ada dalam genggaman.

Jepang menghadirkan siaran televisi untuk telepon genggam ini sejak pertengahan tahun silam dengan teknologi one-segment broadcasting. Siaran dapat mengadopsi sistem digital agar gambar dan suara dapat diterima dengan kualitas prima. Sekalipun dalam keadaan bergerak, mulai jalan kaki hingga menumpang kereta cepat Shinkansen yang melaju 300 kilometer per jam.

Dengan ponsel televisi, berbagai tayangan favorit pagi hari yang biasa terlewat, kini bisa dinikmati dalam perjalanan menuju tempat kerja. Tinggal cari dan pilih acara yang dikehendaki, ponsel tersebut ini akan menampilkannya.

Dan bila terjadi ada dua program favorit tayang pada jam yang sama, tak usah khawatir. Ponsel ini dilengkapi dengan kemampuan merekam hingga 30 menit. Jadi tonton yang satu dan rekam yang lain untuk ditonton kemudian. Namun, buat sementara, ponsel TV ini baru bisa beroperasi selama tiga jam nonstop. Ini lantaran belum ada baterai yang tahan lebih lama.

Siaran televisi memang makin mudah diakses, termasuk melalu media handphone. Teknologi memang semakin mempermudah kita memperoleh informasi. Lantaran itu pula, Liputan 6 SCTV sedang menyiapkan News Channel yang berisi berbagai program berita 24 jam. Program ini bisa diakses melalui ponsel.

Kesibukan di dapur redaksi Liputan 6 memang semakin bertambah. Namun, melalui News Channel, awak redaksi dapat memproduksi dan menyiarkan berbagai program berita selama 24 jam. Maklum, program berita ini dapat diakses melalui handphone.

Tentu saja, program ini memanfaatkan kemajuan teknologi. Program News Channel SCTV nantinya bisa diakses melalui handphone yang dilengkapi teknologi digital video broadcasting handheld (DVB-H). Adapun ponsel berteknologi DVB-H yang segera bisa digunakan di Indonesia adalah Nokia tipe N-77. Ini tak terpengaruh oleh jenis kartu telepon seluler yang digunakan.

Agar bisa diakses melalui handphone, SCTV bekerja sama dengan perusahaan TV berlangganan. Launching News Channel SCTV sendiri akan digelar pada Oktober nanti. Dan buat sementara waktu, News Channel ini hanya dapat diakses di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

Orang Tua Perlu Mengawasi Siaran Televisi

Filed under: Uncategorized — gertak @ 9:04 AM

26/08/2007 08:28 Televisi
Orang Tua Perlu Mengawasi Siaran Televisi

Liputan6.com, Jakarta: Banyak tayangan serta program televisi yang tak mendidik bagi bocah. Bahkan, sejumlah program yang isinya tak sesuai untuk anak-anak ditayangkan pada jam di mana masih banyak penonton anak-anak. Padahal, banyak stasiun televisi yang sudah mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia dan berbagai lembaga sosial kemasyarakatan lainnya. Agaknya, ketatnya persaingan membuat pengelola televisi acap kali tak mengindahkannya.

Selain komitmen pengelola stasiun televisi, orang tua juga perlu turut serta membantu mengawasi acara maupun program yang ditonton anak-anak mereka. Sekilas, cuplikan suatu tayangan film anak terkesan biasa saja, bahkan lucu dan menyenangkan. Si upik pun betah menonton film semacam itu.

Namun bila diperhatikan, adegannya ternyata tidak sehat bagi perkembangan anak. Karena secara tidak langsung telah mengajari berbagai hal yang masih jauh dari takaran umur mereka. Nah, keprihatinan akan tayangan televisi itu, kini telah meluas di kalangan masyarakat. Sekalipun demikian, ketidakjelasan soal panutan acara mengakibatkan tiada pilihan. Alhasil acara yang seharusnya tak menjadi konsumsi anak terpaksa ditonton juga.

Komisi Penyiaran Indonesia mencatat setidaknya ada lima gambar yang tidak sehat bagi anak yang perlu diwaspadai para orang tua. Yakni, gambar kekerasan yang membahayakan dan mudah ditiru anak; gambar menakutkan serta mengerikan seperti senjata tajam, darah dan kriminal; gambar situasi klenik dan tahayul; gambar kegiatan seksual seperti ciuman, telanjang dan adegan pacaran; dan gambar perbuatan antisosial seperti tamak, licik serta berbohong.

Sedangkan narasi yang tidak sehat adalah memaki kata-kata yang diasosiasikan dengan kegiatan seksual; mengejek dan menghina mengolok-olok serta melecehkan kelompok tertentu seperti fisik atau ras.

KPI menilai kontrol masyarakat paling efektif untuk meminimalkan tayangan-tayangan yang membahayakan bagi anak. Sebagai penonton, masyarakat dapat melaporkannya kepada KPI, terutama bila memang ada tayangan yang tidak sehat. Para penonton juga dapat mengeluhkan tayangan tersebut langsung kepada stasiun televisi yang menayangkan. Dengan demikian, kualitas siaran tak hanya semata tanggung jawab KPI. Tapi, juga menjadi tanggung jawab berbagai pihak, khususnya kalangan orang tua.

Belakangan, bukan hanya TV swasta yang meramaikan dunia televisi di Indonesia. Ada lagi fenomena TV lokal. Hanya saja, aturan main yang terkadang tak jelas serta manajemen yang juga berantakan membuat sebagian TV lokal yang sudah tumbuh, mati suri. Bahkan, mati selamanya.

Tengok saja gedung stasiun tv lokal pertama di Manado, Sulawesi Utara, yaitu TV Manado. Kini tinggal menjadi kenangan bagi warga Manado. Televisi itu terpaksa tutup karena tak mampu lagi menutup ongkos produksinya, selain belitan masalah manajemen.

Padahal, pendirian televisi ini diarahkan untuk menangkap peluang bisnis yang terbuka dari terbitnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tnetang Penyiaran. UU ini mewajibkan TV nasional bermitra dengan TV lokal dalam merelai siarannya [baca: Selamat Datang Era Televisi Lokal]. Selain TV Manado, ada juga Bunaken TV yang konsep siarannya penuh muatan lokal dengan target pengiklan setempat. Sebelumnya, acara di televisi ini sangat disukai warga Manado, sayang hanya bertahan dua bulan.

Lain halnya dengan Pasific TV. Stasiun televisi kebanggan warga Sulut, hingga saat ini ramai pengiklan sehingga bisa tetap bertahan. Bahkan, sekarang mampu mengudara hingga 18 jam sehari. Sepanjang tahun ini, Pacific TV terus melebarkan usahanya ke bidang radio dan koran lokal. Selain di Manado, ada pula TV Lima Dimensi di Kota Tomohon yang eksis hingga sekarang.

Sedangkan di Gorontalo, semangat memiliki TV lokal tak kalah dengan provinsi tuanya, Sulawesi Utara. Kendati hanya mengandalkan iklan lokal, TV Gorontalo mampu bertahan hingga tahun keenam ini. Karena itu wajar, bila televisi kebanggaan masyarakat Gorontalo ini hanya mampu mengudara lima jam seharinya. Keyakinan diberlakukannya pasal UU Penyiaran yang mewajibkan TV nasional bekerja sama dengan TV lokal untuk merelai acaranya kini dinantikan. Setidaknya dapat menggairahkan kembali keberadaan TV lokal.

Selain Manado, stasiun televisi lokal juga ada di daerah-daerah lain, termasuk di Surabaya, Jawa Timur. Di Kota Pahlawan itu ada stasiun televisi yang menyiarkan berita dalam bahasa Jawa dialek Surabaya. Pojok Kampung itulah nama program tersebut. JTV selaku pengagas memang sengaja menggunakan bahasa Jawa dialek Surabaya atau Suroboyoan untuk program berita ini. Selain untuk lebih mendekatkan diri pada pemirsanya, penggunaan bahasa Suroboyoan ini juga didorong keprihatinan atas menurunnya penguasaan dialek tersebut di kalangan anak-anak.

Walau didukung awak yang fasih berbicara dalam dialek Surabaya, ternyata untuk menulis naskah, mereka masih dibantu seorang penerjemah. Di tangan orang itulah, naskah tersebut sampai pada bentuk akhirnya. Sebagaimana yang sampai ke pemirsanya.

Namun, berita yang sudah selesai, boleh jadi akan kehilangan gregetnya bila tak disampaikan dengan pas. Untuk itulah, pihak JTV tak sembarangan memilih presenter. Ini wajar karena ia harus benar-benar menguasai bahasa Suroboyoan. Walau sudah dipersiapkan sedemikian rupa, tak berarti semua akan berjalan lancar. Sesekali ada saja masalah yang muncul.

Sejak diluncurkan awal Juli 2003, program berita Pojok Kampung telah tumbuh menjadi ikon JTV. Program ini juga mendapat respons positif dari warga Surabaya. Dan menyusul keberhasilan Pojok Kampung, pihak JTV mengembangkan program berita serupa dengan nama Pojok Kulonan. Program ini menggunakan bahasa Jawa halus atau krama untuk merebut pemirsa Jawa Timur yang belum tergarap melalui program Pojok Kampung.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

Next Page »

Blog at WordPress.com.