gerTAK Blog!

July 31, 2008

IMEDIABIZ.TV – gratis nonton TV lokal online

Filed under: Uncategorized — gertak @ 2:17 PM

Ternyata Lima Presiden Indonesia Pernah Ditipu

Filed under: Uncategorized — gertak @ 11:13 AM
2008 Jul 29

Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ‘tertipu’ dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.

Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.

Penipu ‘masuk Istana’ ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu — suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.

Pasangan ‘suami istri’ itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada ‘raja’ dan ‘ratu’ tersebut.

Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, ‘suami-istri’ yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali ‘Raja’ Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang ‘maharani’ juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.

Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.

Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang ‘bayi ajaib’ di perut Cut Zahara.

Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar ‘bayi ajaib’ itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi’ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.

Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap ‘bayi ajaib’-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.

Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.

Meskipun kedoknya terbongkar, ‘bayi ajaib’ tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal ‘bayi ajaib’ itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.

Setelah tidak terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.

Orang yang dianggap ‘dekat’ dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.

Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.

Pada masa Presiden Megawati, skandal ‘penipuan’ kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.

Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.

Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan.

Dikutip Dari Beberapa Sumber Di Internet

Presiden RI 2009 menurut teori Joyoboyo adalah "SUTIYOGO"

Filed under: Uncategorized — gertak @ 11:08 AM

Presiden RI 2009 menurut teori Joyoboyo

27 July 2008 | www.blogberita.net

Konon urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah
”notonogoro” — urutan suku kata terakhir nama mereka.
”No” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan
”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Kini giliran
“go”; maka Kivlan Zen, bekas petinggi TNI, mengubah namanya
menjadi Sutiyogo untuk ikut Pilpres 2009. Bah, orang
“ngelmu” kayak begini mau jadi presiden?

Majalah Tempo edisi pekan lalu menurunkan liputan utama berjudul Mimpi jadi presiden. Sejumlah tokoh sipil dan militer yang ingin jadi RI-1 diulas, salah satunya adalah Kivlan Zen. Blog Berita
tergelitik membaca salah satu artikel Tempo tentang usaha Kivlan
mempersiapkan dirinya menjadi presiden, yaitu dengan cara mengubah
namanya agar sesuai ramalan Joyoboyo.

H spasi D, heran deh…. Di bawah ini Blog Berita mengutip artikel Tempo tersebut.

Pendukung Kivlan Zen percaya akan munculnya Satrio Piningit. Berbekal keris dan ramalan Joyoboyo.

Zaap…, Kivlan Zen melihat bola biru melesat ke angkasa.
Tengah malam sudah lewat, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis
Angkatan Darat itu sedang tirakat di emperan musala di kompleks
pemakaman Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, awal Juni tahun lalu.

Kivlan, 63 tahun, telah selesai menjalani ritual nyekar di pusara
sang Proklamator. ”Semoga Paduka yang Mulia diberi kelapangan di
alam kubur,” kata pensiunan mayor jenderal itu menceritakan
kembali pengalamannya. Bersama menantunya, ia melakukan salat malam dan
kemudian tirakat.

Menurut Kivlan, ada lima peziarah lain yang menyaksikan bola biru
melesat malam itu. Mereka menyebutnya lintang kemukus — dalam
tradisi Jawa diyakini menjadi pertanda bakal munculnya Satrio Piningit.
”Sebulan kemudian, jam satu malam, saya bertemu dengan lintang
kemukus lagi ketika naik mobil di Bintaro, Jakarta Selatan,”
ujarnya.

Setahun setelah munculnya lintang kemukus itu, Kivlan
mendeklarasikan diri sebagai calon presiden di Gedung Museum
Kebangkitan Nasional, Jakarta. Ia mengusung slogan: ”Pembaruan
dan Tegas”. Jualannya pembangunan pertanian dan energi bersumber
alam. Ia mengklaim punya sumber energi baru yang dinamai ”fuel
cell”.

Kivlan yakin dukungan politik dan dana untuknya akan
datang. Ia pun siap memperluas kewenangan otonomi daerah, termasuk hak
mengelola anggaran oleh pemerintah daerah. ”Para gubernur pasti
mendukung saya,” ujarnya.

Bagi Anda yang sudah lupa dengan Kivlan Zen, mari sama-sama membuka
catatan lama. Kivlan dulu pernah mengaku diperintah Panglima Tentara
Nasional Indonesia Jenderal Wiranto membentuk Pam Swakarsa —
milisi sipil yang dipersenjatai bambu runcing untuk melawan demonstrasi
mahasiswa menjelang Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat
1998. Wiranto membantah tudingan Kivlan itu dan jadilah keduanya
berpolemik di media massa. Keduanya juga saling serang dengan cara
menerbitkan buku.

Kini Kivlan bangkit lagi. Untuk meraih mimpinya, menurut orang
dekatnya, ia mengejar dukungan hingga alam gaib. Sang calon presiden
kabarnya memiliki guru spiritual
bernama Ahmad Zakaria, pria 100 tahun yang mengklaim masih merupakan
kerabat Keraton Yogyakarta. Kepada Kivlan, kata sumber itu, Zakaria
memberikan pertanda: ”Presiden tahun depan bukan orang
Jawa.” Ia pun meminta Kivlan cepat-cepat mengumumkan diri sebagai
calon presiden.

Agar lebih sedap, ramalan lawas juga dibuka. Menurut teori Joyoboyo
yang masyhur, urut-urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah
”notonogoro” — urut-urutan suku kata terakhir nama
mereka. ”No” untuk Soekarno, ”to” untuk
Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono.
Adapun B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri
dianggap sebagai tokoh peralihan.

Nah, kini giliran yang punya nama ”go” untuk memimpin.
Kivlan Zen jelas tak memenuhi syarat ini. Tapi itu tak jadi masalah. Ia
sudah punya nama lain: Sutiyogo. Prosesi mengubah nama itu kabarnya
telah dilakukan sebulan lalu.

Saat dimintai konfirmasi soal itu, Kivlan tak
membantahnya. Ia berujar, ”Saya memang suka ngelmu, sejak
berlatih silat ketika kelas II SMA di Medan.” Di mana pun
bertugas ketika masih aktif di militer, ia mengaku selalu berguru
kepada ulama. ”Saya pengikut tarekat Naqsabandiah.”

Satu lagi senjata pamungkas Kivlan: keris tujuh lekuk setengah meter
dari besi kuning. Keris itu diberi nama Satrio P. Saat ditanyai apakah
P itu merupakan singkatan dari ”Piningit”, Kivlan tangkas
menjawab, ”Biar saja orang lain yang menafsirkan, nanti geger
Indonesia.”

Nah, siapa berani melawan Sutiyogo, eh, Kivlan Zen? [Tempo/Budi Riza]

  • Foto Kivlan: Tempo/Dwi Djoko Sulistyo

Capres 2009 – M Fadjroel Rachman … ada yg ngeFANZ

Filed under: Golkar,Uncategorized — gertak @ 10:54 AM

http://fadjroel4president2009.wordpress.com

July 22, 2008 by fadjroel

M Fadjroel Rachman

Pemimpin muda dunia sudah hadir, Medvedev (44) di Rusia, Obama (47)
di Amerika Serikat, dan kaum muda di Indonesia. Itulah generasi
kepemimpinan nasional baru berusia 30-40 tahun yang akan mewarnai
kepemimpinan global pada masa ini.

Dunia baru dengan kompleksitas baru niscaya membutuhkan pengalaman
baru. Dunia lama niscaya juga membutuhkan pengalaman lama, tetapi dunia
baru niscaya tidak membutuhkan pengalaman lama dari ”kaum
tua”. ”Kaum muda”, generasi kedua kepemimpinan
nasional pascareformasi, mewakili Zeitgeist (jiwa zaman) baru ada dalam
konfrontasi dengan Zeitgeist lama ”kaum tua”. Progresivisme
melawan konservativisme!

”Kaum muda” adalah petarung untuk merebut kursi
presiden, wakil presiden dan kabinet, bahkan legislatif dan eksekutif
di tingkat provinsi, kabupaten, dan kotamadya pada tahun 2009. Di
tingkat nasional ”kaum muda” akan berhadapan dengan
”kaum tua” berusia 58-60 tahun.

Pertaruhan dua generasi ini amat besar, yaitu masa depan Indonesia.
Dari pengalaman kegagalan 10 tahun terakhir, kemampuan kaum tua tak
akan berbeda dengan kondisi sekarang, stagnan.

Tiga pola perubahan

Praktis tak ada lagi kekuatan politik di Indonesia yang menolak
regenerasi kepemimpinan nasional. Partai politik (parpol) dan nonparpol
saling berlomba menawarkan kesempatan yang dihalangi sebelumnya.
Kecenderungan mutakhir berpusat pada tiga pola perubahan: progresif,
moderat, dan konservatif.

Pertama, pola progresif berarti memperjuangkan posisi presiden, wakil presiden, dan kabinet semuanya dari kaum muda.

Kedua, pola moderat di mana posisi presiden dari kaum tua, wakil presiden dan kabinet dari kaum muda.

Ketiga, pola konservatif di mana presiden, wakil presiden, dan kabinet dari kaum tua atau minoritas kaum muda.

Pola progresif yang paling pantas diperjuangkan bila Indonesia baru
memperjuangkan secara paralel, sedikitnya lima hak dasar warga negara
(hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya) serta kesetaraan
jender dan minoritas lainnya. Pola konservatif amat pasti ditinggalkan
karena berlawanan dengan arus perubahan. Pola moderat adalah sekoci
penyelamat bagi kaum tua, tetapi Indonesia juga makin uzur di mata
dunia.

Kaum muda bukanlah generasi peminta-minta kekuasaan. Rezim Orde Baru
yang berkuasa 32 tahun pernah ditumbangkan saat mayoritas kaum tua yang
berebut kursi kepresidenan 2009 mati- matian membesarkan dan melindungi
kekuasaan antidemokrasi itu. Kaum muda adalah penentang politik
Machiavellian dan pelaku politik Aristotelian yang percaya
”politics is the science of the good for man, to be
happiness”. Dengan demikian, seperti kata Tony Blair,
”Power, wealth, and opportunity are in the hands of the many not
the few … so that, freed from the tyranny of poverty, ignorance,
and fear” (2001).

Terobosan politik

Tentu saja perubahan politik 2009 bukan sekadar usia generasi, juga
nilai-nilai utama kepemimpinan, demokrasi, kesetaraan, dan
kesejahteraan. Jantungnya adalah agenda progresif demokrasi yang
langsung menghantam kemiskinan dan ketimpangan sosial, seperti (1)
nasionalisasi aset strategis negara, termasuk telekomunikasi, minyak,
gas, dan tambang; (2) penolakan pembayaran utang haram (odius debt)
dari luar negeri dan dalam negeri; (3) pajak progresif 50-55 persen
terhadap kekayaan dan pendapatan tertentu; (4) pengadilan dan penyitaan
korupsi Soeharto, keluarga, dan kroni; (5) pengadilan HAM berat kasus
Timor Leste, Aceh, Tanjung Priok, penculikan aktivis, Trisakti,
Semanggi, dan lainnya.

Peluang kaum muda

Adakah peluang bagi kaum muda untuk 2009? Peluang terbesar tentu
bila kaum tua ikhlas mengundurkan diri, seperti Al Gore dengan jiwa
besar menyambut kedatangan Obama. “Amerika baru memerlukan
pemimpin baru,” kata Al Gore.

Namun, kaum tua kita tak seikhlas Al Gore. Bahkan, kaum tua menuduh
kaum muda meminta- minta kekuasaan. Cara lain? Melalui regulasi
konstitusi UUD 1945 Pasal 6A Ayat 2, Pasangan calon presiden dan wakil
presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik
peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.

Melalui parpol dan gabungan parpol? Tentu saja karena perlu
amandemen (atau judicial review di Mahkamah Konstitusi). Agar calon
independen dapat bertarung sebagai calon presiden, perlu waktu lama
karena tembok penghalangnya. Lalu bagaimana?

Mengingat parpol besar, seperti PDI-P, Partai Golkar (dan Partai
Demokrat), sudah mapan dengan presiden kaum tua, parpol menengah,
seperti PKS, PAN, PKB, dan PPP, dapat melakukan terobosan politik
dengan memilih pola progresif dan mencalonkan presiden 2009 dari kaum
muda.

Peluang lain melalui revisi UU No 23/2003 tentang Pemilihan
Presiden, parpol menengah dan kecil mewajibkan konvensi, seperti di AS,
kepada parpol dan gabungan parpol sehingga kaum tua bisa ditantang kaum
muda dari dalam parpol dan independen. Memilih konvensi berarti
meyakini bahwa kompetisi melahirkan kompetensi, kualitas, dan
aksepsibilitas.

Nah, kaum muda dapat memanfaatkan secara maksimal peluang regulasi
dan political will itu. Meski tipis, bukankah inovasi politik bagi kaum
muda berarti mengubah ketidakmungkinan politik menjadi kemungkinan
politik. Karena itu, kaum muda berhasil menumbangkan rezim
Soeharto-Orde Baru yang ditopang mayoritas kaum tua. Bila dikerjakan
optimal, akan terwujud Republik Kaum Muda, dengan presiden kaum muda
pada tahun 2009. Jadi, mulai hari ini, kaum muda harus bekerja keras
dan bekerja cerdas.

M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara
Kesejahteraan (Pedoman Indonesia); Ketua Gerakan Nasional Calon
Independen

fadjroel rachmanAnwar Ibrahim, me, Rendra

http://www.flickr.com/photos/mfadjroelrachman

http://fadjroel4president2009.wordpress.com


July 29, 2008

Agung Laksono Minta BK DPR Sikapi Pengakuan Hamka

Filed under: Uncategorized — gertak @ 3:05 PM
29/07/2008 14:43

Agung Laksono Minta BK DPR Sikapi Pengakuan Hamka

Liputan6, Jakarta: Ketua
DPR Agung Laksono meminta Badan Kehormatan DPR, agar menyikapi
pengakuan Hamka Yandhu soal keterlibatan 52 anggota legislatif periode
1999-2004 dalam kasus penyelewengan dana Bank Indonesia. “Saya akan
segera bertemu pimpinan BK DPR untuk membahas masalah itu,” kata Agung,
Selasa (29/7).

Agung mengatakan, sebenarnya nama-nama itu sudah lama beredar, meski
sebatas isu. Dengan pengakuan Hamka Yandhu, katanya, maka masalah itu
tampaknya semakin serius.

“DPR tidak akan melakukan intervensi atau menghalangi proses hukumnya.
Sebaliknya, DPR justru akan mendorong pengusutan kasus iyu secara
tepat,” kata Agung.

Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Senin (28/7), mantan
anggota Komisi IX DPR Hamka Yandhu membeberkan aliran dana Bank
Indonesia sebesar Rp 100 miliar kepada 52 anggota DPR periode
1999-2004. Termasuk, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional
yang merangkap Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri Kehutanan MS
Kaban [baca: Hamka: Paskah dan Kaban Terima Dana BI].(SHA/ANTARA)

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.